Bagaimanakah kinerja portofolio mu? | Pojok Ide Investasi

By: Marciano Pratama

(Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, blog ini juga akan diisi oleh artikel-artikel dari para kontributor. Artikel yang akan Anda baca merupakan artikel pertama dari Marciano Pratama tentang pengelolaan portfolio. Selamat membaca šŸ™‚ )

Dalam setiap jenis investasi apapun (Emas, Pasar Uang, Properti, Saham, Obligasi) pentingĀ  untuk dilakukanĀ  pengukuran dan pembandingan kinerja. Seperti halnya pada olahraga lomba lari yang diukur/dinilai waktunya, investasi dinilai dari hasil yang didapat(return)nya.

Dalam artikel ini saya tidak akan membahas secara detail rumus dan konsep dari tipe-tipe perhitungan yang ada, melainkan konsep praktisnya saja dalam pengukuran return selama satu tahun/annual return (reksadana biasanya menggunakan periode pengukuran satu tahun).

Metode pengukuran annual return yang biasanya saya gunakan ada 2 macam :

ā€¢Ā Ā  Ā Time Weighted Return
Metode ini biasanya mengukur portfolio dengan asumsi hanya ada dua transaksi selama periode pengukuran. Satu ā€œtransaksi beliā€ diawal periode, satu lagi ā€œtransaksi jualā€ di akhir periode. Pengukuran dengan metode ini diperlukan untuk membandingkan kinerja portfolio dengan benchmark yang digunakan atau dengan reksadana-reksadana saham.
Contoh perhitungan :
IHSG (penutupan 30/12/2010) : 3704
IHSG (penutupan 30/12/2011) : 3822
Dengan periode 1 tahun : 30/12/2010 ā€“ 30/12/2011 kita dapat menghitung annual return dengan cara sederhana :
(3822-3704)/3822 = 3.19%

catatan : Return yang ada di fund fact sheet reksadana juga menggunakan cara ini dalam perhitungannya.

ā€¢Ā Ā  Ā Money Weighted Return (Sering disebut juga dengan Internal Rate of Return/IRR)
Metode ini mengukur porftolio anda secara dinamisĀ  dengan cara memperhitungkan setiap arus kas yang keluar dan masuk. Dikarenakan transaksi pembelian dan penjualan setiap investor berbeda-beda baik jumlah dan waktunya, hasil dari pengukuran dengan metode ini akan menghasilkan hasil yang berbeda-beda pula pada setiap investor. Metode ini berguna untuk mengukur kinerja sebenarnya pada masing-masing portfolio investor.

Sebagai ilustrasi :

Dengan asumsi IHSG adalah kode saham (untuk mempermudah penjelasan), ada 2 investor melakukan pembelian saham IHSG dengan 2 skenario yang berbeda :

Skenario 1 : Investor A melakukan pembelian 1 lembar saham IHSG pada tgl 30/12/2010 di harga 3704, dan melakukan penjualan 1 lembar saham yang dimilikinya pada tgl 30/12/2011 di harga 3822, maka perhitungan annual return dapat dilakukan dengan cara time weighted return yang menghasilkan annual return sebesar 3.19%

Skenario 2 : Investor B melakukan pembelian 1 lembar saham IHSG pada tgl 30/12/2010 di harga 3704, lalu melakukan pembelian lagi 1 lembar saham IHSG pada tgl 23/09/2011 di harga 3426, Pertanyaannya, jika harga saham IHSG pada tgl 30/12/2011 bernilai 3822 per saham berapakah annual return yang didapat?

Jawaban :
Investor B tidak melakukan penjualan pada tgl 30/12/2011, namun untuk perhitungan annual return, investor B mengasumsikan bahwa 2 saham tersebut dijual pada tgl 30/12/2011 di harga 3822. Pada skenario 2 ini, dikarenakan ada pembelian saham di tengah-tengah periode, maka perhitungan annual return biasanya dilakukan dengan metode money weighted return. Perhitungan dengan rumus XIRR menghasilkan annual return sebesar : 11.20%

Catatan : Bila metode pengukuran money weighted return dilakukan pada porfolio yang hanya memiliki dua transaksi (beli diawal periode, jual di akhir periode), hasilnya akan persis sama dengan metode pengukuran time weighted return.

Setelah pengukuran annual return portfolio dilakukan, sekarang kita perlu melakukan pembandingan annual return untuk mengetahui apakah investasi kita masih layak untuk dilanjutkan atau tidak. Logikanya:Ā  ā€œ jika annualĀ  return portfolio investasi saya selalu dibawah annualĀ  return benchmark, maka seharusnya saya menjual seluruh portfolio investasiĀ  saya lalu menggunakan uang tersebut untuk membeli/investasiĀ  di benchmark itu sendiri.ā€

Untuk investasi saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cukup ideal untuk dijadikan sebagai benchmark utama. Selain itu biasanya saya juga akan membandingkan return portfolio dengan reksadanaĀ  saham yang memiliki nama besar dan berhasil mengalahkan return IHSG secara konsisten dari tahun ke tahun seperti Panin Dana Maksima dan mungkin reksadana saham terbaik pada periode tahun tersebut (Misal untuk 2011: Makinta Mantap)

Dikarenakan secara jangka panjang return IHSG mengalahkan return pasar uang maupun obligasi, bagi saya : keunggulan terhadap benchmark jauh lebih penting dibanding dengan annual return absolut yang didapat. Contoh : tahun dimana IHSG -20% dan kinerja portfolio sayaĀ  -10% lebih berharga dibanding IHSG +20% dan kinerja partnership +10%. Walaupun di tahun portfolio saya -10% , mengalami kerugian, namun return portfolio saya mengungguli return IHSG. Beda halnya dengan tahun dimana portfolio saya +10%, mengalami keuntungan,namun secara pembandingan benchmark, return portfolio saya dibanding IHSG adalah -10%. Konsep ini sangat penting dan harus dipahami oleh para investor agar tidak mengalami guncangan mental yang menyebabkan perilaku tidak rasional yang dapat berdampak pada kerugian permanen pada saat bursa saham crash. Pola pikir ini saya dapatkan dan pelajari dari Warren Buffet. Mungkin untuk sebagian orangĀ  pemikiran ini tidak masuk akal dan tidak rasional, namun melihat return IHSG dalam jangka panjang, pola pikir ini menurut saya sangatlah masuk akal. Nah sekarang, bagaimanakah kinerja portfolio mu? šŸ˜€

Share artikel ini:

SourceĀ https://parahita.wordpress.com/2012/03/26/bagaimanakah-kinerja-portofolio-mu-2/

Hukum Pasar Modal | MENYONGSONG PERADABAN BARU TANPA DEMOKRASI

Apakah Aku Korban Penipuan Asuransi? Ā» Blog Perencanaan Keuangan